Guru楓-san, seorang guru yang penuh dedikasi, sedang menghadapi kesulitan dalam memberikan bimbingan karier kepada pelajar-pelajarnya. Ia juga sedang khawatir tentang seorang pelajar yang sering tidak hadir, yaitu ハルト君. Ketika ia mencoba menghubungi keluarga ハルト君, ia menemukan kondisi yang sangat memprihatinkan—keluarga tersebut tampaknya tidak peduli, rumah penuh sampah, dan orang tua ハルト君 bahkan tidak tahu di mana anaknya berada.
Dengan kekhawatiran yang mendalam, guru楓-san terus memperhatikan keadaan ハルト君. Ia tidak hanya menemui ハルト君 di sekolah, tetapi juga melibatkan dirinya dalam kehidupan pribadi ハルト君, bahkan dalam situasi yang semakin intensif. Ia menghadapi keadaan yang semakin memanas, dimana kekhawatiran berubah menjadi ketertarikan, dan ketertarikan berubah menjadi hubungan yang semakin dalam.
Dalam suasana yang penuh ketegangan dan kehangatan, guru楓-san dan ハルト君 berada dalam dinamika yang semakin memperlihatkan perubahan emosi dan keintiman yang tumbuh antara keduanya. Ia tidak hanya menjadi guru, tetapi juga menjadi seseorang yang memahami kebutuhan hati dan tubuh ハルト君.
Dari sekadar kekhawatiran, hubungan ini berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar guru dan pelajar. Guru楓-san menemukan dalam diri ハルト君 sesuatu yang membuatnya semakin tertarik dan terbawa dalam perjalanan emosional yang menarik, penuh ketegangan, kehangatan, dan keintiman yang tumbuh secara alami. Dari situ, kehidupan mereka menjadi lebih dari sekadar harapan dan kekhawatiran, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan yang penuh makna.