Yūsuke, seorang pelajar yang sedang bersiap menghadapi ujian, menghadapi kehidupan yang tidak biasa bersama ibunya, yang dikenal sebagai "Okaasan". Dalam kehidupan sehari-hari, Okaasan dikenal sebagai sosok yang ketat, terutama dalam hal belajar. Namun, di balik sikapnya yang keras itu, tersembunyi perhatian yang mendalam. Sejak masa remaja, Yūsuke sering kali terganggu oleh perasaan yang menggelora, hingga membuatnya sulit fokus dalam belajar. Ia pun tak bisa menahan diri dari keinginan untuk melampiaskan hasratnya, terutama kepada Okaasan, yang menjadi tempat ia memenuhi keinginan seksualnya.
Dalam kehidupan mereka yang unik ini, terdapat aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi. Yūsuke harus mengirimkan pesan lewat email untuk memberi tahu Okaasan bahwa ia akan datang, dan ia juga harus mematuhi waktu yang ditentukan agar tidak terganggu oleh kehadiran ayahnya. Meskipun begitu, setiap kali Yūsuke datang, ia langsung menuju kamar Okaasan tanpa banyak basa-basi, dan tanpa perlu berbicara. Mereka saling memahami, dan keintiman mereka pun berlangsung secara alami.
Okaasan, yang telah meminum pil untuk menghindari kehamilan, membiarkan Yūsuke menikmati keintiman mereka secara bebas. Ia pun tidak lagi menahan diri untuk menahan rasa senangnya, sehingga suara sesekali terdengar dari dalam kamar. Setelah sesi mereka selesai, Yūsuke pun kembali ke kamarnya, sedangkan Okaasan tetap menunggu di kamar dengan harapan bahwa mereka bisa bersama lagi.
Dalam kesepakatan yang baru, Yūsuke diberi kebebasan untuk melanjutkan hubungan mereka, bahkan dalam posisi yang berbeda. Keintiman mereka terus berlangsung, membawa Yūsuke ke puncak kebahagiaan, dan membawanya ke tingkat kesenangan yang tak terlupakan.