Dari seorang pelajar kelas dua yang dulu pernah menjadi idol, kini ia kembali ke sekolah dengan fokus penuh pada pelajaran. Ia datang sendirian, tanpa membawa apa-apa, dan diberitahu oleh お父さん bahwa ia harus menyelesaikan tugas yang diberikan. Ia tidak bisa pulang sebelum menyelesaikan apa yang diminta, dan akhirnya, ia harus menyerah pada keinginan yang diberikan.
Dengan sedikit keengganan, ia duduk di depan kamera, dan satu per satu, ia mengikuti instruksi yang diberikan. Ia harus menutup mata, membuka mulut, menurunkan badannya, dan berusaha untuk tetap tenang meskipun terasa sedikit memalukan. Ia berusaha untuk tidak menangis, tetapi saat ia merasa semakin lelah, ia tidak bisa menahan air mata lagi. Ia terus menerus memohon agar berhenti, tetapi tidak ada yang memenuhi permintaannya.
Dari satu perintah ke perintah lainnya, ia merasa seperti sedang diuji. Ia harus mengangkat bahunya, menurunkan pinggulnya, dan bahkan menurut perintah untuk melihat ke kamera sambil tetap mempertahankan senyum. Ia tidak tahu apakah ini adalah bagian dari tugasnya, tetapi ia tetap memenuhinya dengan baik.
Dari satu perintah ke perintah lainnya, ia merasa seperti sedang diuji. Ia harus mengangkat bahunya, menurunkan pinggulnya, dan bahkan menurut perintah untuk melihat ke kamera sambil tetap mempertahankan senyum. Ia tidak tahu apakah ini adalah bagian dari tugasnya, tetapi ia tetap memenuhinya dengan baik.
Dari satu perintah ke perintah lainnya, ia merasa seperti sedang diuji. Ia harus mengangkat bahunya, menurunkan pinggulnya, dan bahkan menurut perintah untuk melihat ke kamera sambil tetap mempertahankan senyum. Ia tidak tahu apakah ini adalah bagian dari tugasnya, tetapi ia tetap memenuhinya dengan baik.
Di akhir, ia merasa seperti baru saja melewati tantangan besar. Ia mengatakan "おやすみなさい" sambil menutup mata, dan ia terlihat seperti sedang menikmati kelelahannya. Ia berharap お父さん dan お母さん akan bangga padanya, dan ia pun mengatakan "おめでとうございます" sebelum menutup mata dan beristirahat.